catatan catatan berserak
<>
Monday, April 26, 2004
SAJAK BERANGKAT

langit berangkat
pulang ke kelam
tanah berangkat
pulang ke karang
laut berangkat
pulang ke gelombang

api berangkat
pulang ke arang
hujan berangkat
pulang ke ranjang
usia berangkat
pulang ke ingatan

cinta berangkat
pulang ke bimbang?

o, waktu
yang berangkat
dan yang pulang
senantiasa bergetar
menyanyi

o, rindu
yang lekat
dan yang hilang
senantiasa berputar
menari

meliukkan cinta
tak hilang hilang

padaMU!


27 Feb 2004

Ompit @ 2:24 PM

RESONANSI RINDU

aku berlari kepuncak matahari
menyelam di akar lautan
siapakah kau
menatah rindu

aku merambat di daun sunyi
melukis di ranting airmata
siapakah kau
merajam usia

aku bersujud di basah tanah
berdoa dibatas angkasa
memanggil gaibmu
entah siapa


23 feb 2004
Ompit @ 2:21 PM

MEMBACA MATAHARI DIATAS KOTA
:Kepada Pengembara

tak ada lagi yang bisa kita puisikan dari matahari yang rebah di atas pagar dan daun jendela. seperti dongeng yang kita tunggu menjelang kematian. suara suara yang menempel dipuncak menara telah menjadi burung hantu dalam setiap percakapan. kita hanya mengenang pikiran yang selalu terlambat menghirup udara, memelihara kecemasan demi kecemasan disetiap persimpangan.

berkali kali setiap kita baca bayangan matahari diatas kota, setumpuk usia yang terikat dirambut selalu saja sudah mengerang, menciptakan nuansa sunyi yang asing, tapi kita tak mati mati, senantiasa mengeluhkan doa demi sepotong api didalam gelap. “mungkin kita orang baik yang tidak diciptakan tuhan”, katamu. kemudian kita tawarkan lagi jenis jenis percakapan pada setiap tanda dan luka yang bertandang. dalam diri sendiri. dalam resah yang abadi.

hingga saatnya kita tersungkur dan berdarah, kehilangan tafsir atas dunia ketika kita temukan matahari mengejar bayangnya sendiri, meninggalkan genit mimpi dengan perasaan tertipu yang lebam.


04 feb 2004
Ompit @ 2:19 PM

Thursday, February 12, 2004
SAJAK LAUT

tentang laut
ketika luasnya
adalah cinta
ketika deburnya
nyanyain rindu
ketika birunya
lukisan
segala
kenangan

o, gelombang
hempaskan aku
dan tenggelam!

4 feb 2004
Ompit @ 9:40 PM

LELAKI DIDEPAN PINTU

disini waktu berlalu membawa puing puing catatan. di dinding dan
lubang lubang jendela yang retak. angin laut telah menjelma api.
tapi ingatanmu masih setia pada desirnya saat kelembutan itu
mengajarimu bagaimana memetik kecapi atas kesunyian
dipenghujung setiap luka

tak kudengar lagi senandung camar dari bibirmu, menipiskan nyala
kematian disepanjang garis pantai. dan bisik pasir itu kian tegas
melilitkan himne perkabungan diatas lilin dalam kamarmu
tapi masih juga kau bayangkan perahu sebagai utusan dari
matahari lain yang membuka ladang bagi pohon pohon rindumu,
dimana waktu memanggul angin laut. meletakkannya disamping
dadamu yang berkali kali menjadi dermaga. lantas demikian
dekatkah makna penantian ini bagimu?

sajak sajak telah hilang sejak kibasan pertama bendera kapal.
tak ada lagi desah dari bukit bukit karang yang dicium ombak
seperti lenguh perawan saat mimpi merapat dalam sentuhan bibir
tengah malam. selain sepi, hanya bisik perkabungan yang
menyelimuti tubuh kurusmu didepan pintu;

sebagai lelaki yang menunggu perahu. menyambut desir
angin laut dan menyelipkan rindu pada arakan kabut
yang menyembunyikan dentam gemuruh hujan

Waru, 6 feb 2004

Ompit @ 7:39 PM

Friday, January 30, 2004
BIEN VENU, MA CHERIE
; adventri

seperti hendak kulantunkan mazmur bagimu, angsa putih
yang melekatkan matahari pada ibu jari dua kakiku. seperti
hendak kuhibahkan usia, saat paruhmu menggambar
semburat fajar ditulang iga.

mengekalkan rindu. menyempurnakan keyakinan,
bahwa hidup masih harus tetap di jalankan.

wahai angsa putihku, selamat datang!

Nogat, jan 2004
Ompit @ 1:31 PM

DONGENG SEORANG PEJALAN

seorang pejalan melepas baju. melepas ingatan. melepas waktu.
melepas nama. melepas duka. melepas haru. melepas sejarahnya!
denting jam telah demikian riuh dipenuhi celoteh pahlawan, katanya.
disesaki orang orang gagah yang percaya pada perang. dalam dirinya.
dalam igau sumbang yang terlampau siang!

seorang pejalan melepas lencana. melepas kota kota dari jaringan
urat syarafnya. mencari hati pada akar dan dedaunan yang jatuh. seperti
rintih sajak yang gagal dibacakan. menggenang dilembaran airmata.

seorang pejalan melepas jalan. melepas peta dari suara suara riuh
yang menempel dibulu matanya. lalu merayap diam diam, pelan pelan,
sendirian. sebab matahari hanya percaya pada embun yang meringkuk
ditubuh ilalang, katanya. persis ketika jarum jam telah dipenuhi para
pahlawan. disesaki kematian dari sisa sisa dusta dan keangkuhan!

seorang pejalan melepas baju. amorfati! teriaknya. dan ia mendaki
bukit, menuruni lereng lereng. mengumpulkan doa nelayan dan
membalutnya disepanjang perjalanan. disepanjang sunyi
rongga dada!

Gejayan, 30 jan 2004

Ompit @ 1:12 PM

Wednesday, January 28, 2004
PEREMPUAN YANG MENYIMPAN PUISI
DI KERLING MATANYA


aku mencintaimu
itu saja!


jatinangor, 18 jan 2004
Ompit @ 6:28 AM

SAJAK SEPASANG ANGSA

sepasang angsa
mencumbu rindu
lambung jiwa

ditengah kolam
bunga bunga teratai
mengulum waktu

air hening bening
nyanyian hati

puisikanlah
sunyi

O, cinta!

betapa diam
lebih bicara


Papringan Jogja, 26 jan 2004
Ompit @ 5:57 AM

Wednesday, January 21, 2004
ODE SECANGKIR KOPI
; adventri

kepadamulah aku berlari, menyematkan rindu
dari kisah langit yang lembayung dikotamu
jam lima pagi. sekian kecemasan kutinggalkan
dalam buku. dan aku memburu. aku melaju

lalu ada yang menguncup ketika keretaku
berguncang dalam lintasan jarak, dimana
hujan melabuhkan ingatan pada wajahmu;
cinta, selamanya telah berdentang, jauh sebelum
peluit menghilang, meninggalkan malam yang
terperangkap ditugu kotaku

aku terlena sepanjang deru angin, hingga
kutemukan senyummu diantara bayang bayang
matahari yang bersandar didinding gerbang.
begitu indah, begitu basah. membasuh kenangan
demi kenangan dari torehan prasangka
dan tanda tanya

tapi siapakah mencuri senja hingga sunyi
terbangun didalam kepala?

kulihat hujan menderas pada secangkir kopi
yang bersitatap dengan bukit bukit
dibelakang punggungmu

menghanyutkan percakapan kita
dalam getar hening jabat tangan


cisaladah, 16 januari 2004

Ompit @ 7:12 AM

Monday, January 05, 2004
TAK AKAN

aku tak akan

berharap lagi
tak akan

mengeluh lagi
tak akan

menangis lagi
tak akan

bicara lagi
tak akan

tersenyum lagi
tak akan

hidup

lagi!!


Ompit @ 9:14 AM

CERMIN YANG HILANG

haruskah kuceritakan padamu tentang orang orang
yang kehilangan cermin didalam kamarnya

tentang waktu yang berlubang. yang menciptakan garis garis
lembah dalam satu rintihan kecil dikegelapan bola mata

tentang peristiwa yang berputar putar dengan gerakan
asing dan tajam, saat tanganmu selalu gagal
menyelamatkannya sebagai pertanda?

konon ada sebuah jalan yang halus dan licin
dalam setiap luka yang mampir tiba tiba
tapi selalu ada ranting yang patah, bersekongkol
dengan angin, menyelinap dalam remang kamar
yang lupa tak terkunci. lalu cermin itu hilang
membawa peta peta jalan kearah utara.
begitu jauh dan dalam. sejauh rindu
sedalam kenangan

haruskah kuceritakan?

aku memungut kepongahan yang lalai
dari tumpukan usia diatas menara, ketika airmata
terlewat dari gemuruh sunyi yang tak sempat
meledak dalam hempasan doa doa

kenapa hanya laut yang mengerti rahasia bukit
dipedalaman saat kapal kapal berlayar
mencumbui gelombang?

barangkali memang harus kuceritakan tentang
cermin yang hilang. agar waktu tak berlubang

agar peristiwa tak menguap sia sia!


madiun, 02 jan 04
Ompit @ 2:53 AM

Monday, December 15, 2003
PANORAMA GELOMBANG
; moningka


duduk diatas ranting ranting bakau yang merambat,
aku menjenguk kedalaman laut. menuliskan kesunyian
dibongkah bongkah terumbu karang. adalah camar yang
menukik, mencuri teripang dari jari jemari gelombang.
menjelmakan aku seliar angin. dimana dirimu wahai kekasih?

masih kukayuh sampan pada ruang ruang ingatan
yang menyimpan cinta, agar kubasuh tanah tandus
yang membatukan kecemasan di urat nadiku. pagi ini,
ketika kueja narasi harapan yang rontok ditendang cuaca.

kau tahu, hamparan gambut memang masih menyimpan
sisa matahari pada lereng lereng perbukitan di utara,
tapi sepotong kabut telah menjelma pisau yang merobek
partitur musik dalam dadaku. seperti cermin buram
digudang tua, seluruh rangkaian notasi yang kita susun
dari gelagat usia gugur menjadi peta peta sunyi yang lepas
dari dinding. demikian selalu, semenjak musim
mengkotbahkan masa lalu.

aku menjerit kekasih. persis deru gelombang yang
mengabarkan luka rindumu. tapi sungguh, tak kutemukan lagi
jendela pada kapal kapal tongkang yang kandas dibibir waktu,
dimana jeritnya menyempurnakan makna baru tentang kehilangan.
dijantungku, disekujur tubuh dan jiwaku.

dipantai ini aku senantiasa berdiri mencemburui burung burung,
sebab tumpukan pasir tak menulis lagi masa depan seperti bait bait
rencana yang pernah kita ukir diantara kotamu dan kotaku
malam itu. hingga dayung dan layar terkubur dalam busa arak,
seperti mengantar ketentraman dadaku yang berhamburan
dari dalam lambung. senyumku membentur ombak dan batu karang.
o, lihatlah ! langit diatas rambutku bahkan menjelma darah.
menumbuhkan perih dan kekosongan disetiap penjuru mata angin.

disini aku mengungsi dalam sajakmu. menyalakan lilin dari nyala cinta
yang kau kecupkan dibibirku. sedang langkah langkah pikiranku
yang telah lumpuh, sesekali kubiarkan terbaring menghayati
kecemasan. ada yang meleleh dihatiku sepanjang rindu yang asing.
lalu kugambar wajahmu disana dengan pelepah nyiur yang
dilemparkan ombak. tapi angin bertanya juga; dimanakah
perahu yang mengantar cinta?

sungguh, laut hanya menawarkan dendam pada lengkung mataku
yang kehilangan perahu. maka selain namamu yang setia menggemakan
rindu disetiap celah malamku, kubiarkan juga gelombang berpesta
menyemburkan kutuk dan keluh pada angin pada laut pada pantai
pada tanah pada cuaca hingga pecah segenap mimpi dengan jeritan luka
seperti bintang yang jatuh, menghempas batu batu dalam jantungku!!

Ompit @ 5:08 PM

BAGI AIDA FATHIYE BARMOUZY

suratmu telah datang, Aida. menghempaskan ranjangku
kepucuk pucuk bukit didalam matamu. jam tanganku
meleleh. menguap dalam kerling bintang tempatmu
menghanyutkan puluhan karung airmata. dan memasuki
lagi gua gua pekat dibalik kisahmu, aku temukan ratusan
bayi serta ibu ibu yang terkapar dihantam ranjau.

kata katamu berdarah. membanjiri karpet tenda dengan keluh
malaikat yang letih memburu. tapi masih juga engkau berdiri.
tertatih mendudukkan anak anak duka disepanjang rimbun palma
dan pohon kurma. sesekali kudengar rintih rabiah dari lengkung
bibirmu. juga syahrazad dan sinbad yang mengurai gelombang.
“sekedar menghiasi arti luka..” katamu.

lalu aku menghablur serupa burung burung gereja menyusuri
kubah masjid dan altar biara yang termangu sepi diantara
gerai hitam rambutmu. sedang cinta yang dirajam puluhan dusta
menyebar. menjelma puing puing rindu yang tertatih menyusun
kembali kepingan mimpi sebagai noktah embun dipadang padang
gersang tanah gurunmu.

O, aku rindu lekuk pinggangmu menarikan jafien yang rancak
seperti gerakan domba menggoda penggembala. tapi selain dendam
dari lembah lembah pasir dimatamu, tak ada lagi yang dapat kudengar
kecuali mesiu yang laknat merobohkan tiang tiang.
aku tahu, Aida. kematian demi kematian telah menciptakan jeritan yang
bergulir diantara kerikil dan debu dikakimu. menyemburkan serapah
pada rumbai sajadahmu yang berguncang tanpa sentuhan rosario

rebana pun telah pecah. Kendi kendi air dipundakmu menggeram
dan engkau tak mampu lagi menangis. membiarkan sepiring puisi
jatuh meludahi debu. sedang langkahmu yang terayun tanpa
lagu lagu itu kian menepi. meneguhkan kebisuan
pada lonceng terakhir atas riwayat cinta yang ditikam bencana.

maka inilah suratku, Aida. mengalirkan ranjang dengan seluruh
jambangan bunga agar kutidurkan perihmu. agar kumandikan
sedihmu hingga puing puing lukamu menjelma ladang ladang
gandum atau zaitun diantara lahan sejarahmu yang nestapa.

lalu kelak suatu hari, jika telah kudengar denting diwan dan masnawi
dari dedaun bibirmu, bersama akan kita ziarahi nisan nisan sengketa
yang menguap sebagai album lama didalam pasir. matahari kita ukir
kembali. tenda tenda kita pancangkan. lalu atas nama kehidupan,
akan kita sibak rahasia tanah yang senantiasa menyedekahkan
air pada kemarau cinta. dan ditepi sungai eufrat yang penuh kasih
menggenggam jemari tigris dibelahan kotamu itu, barangkali aku
akan bertanya kepadamu;

dimanakah puisi serta batu batu kecil kelerengmu yang dulu
selalu terselip diantara jahitan galabeya?

Ompit @ 5:04 PM

SEPOTONG BADAI DIATAS PIRING
: kepada lizwa sephia


aku membaca luka yang menggelegak
diatas gelombang laut. puluhan karang pecah
mengapung apung diatas piringku tanpa
suara. ikan ikan berloncatan. menebar
amis laut dan perih garam
diatas meja

sedang bangkai bangkai perahu
yang berserakan itu, sejenak kuangkat
menjadi sejenis panorama didinding dapur
sepotong jantung terdampar disana
meringkuk dalam kepungan sunyi
yang basah.

aku memungutnya dengan tangan
yang masih kotor dipenuhi sisa makanan
tapi detaknya meronta. seperti menagih matahari
atau cuaca dalam senandung musim semi
yang tak kunjung tiba

barangkali inilah airmata
ketika waktu demikian durjana
menusukkan kesangsian. lalu setiap
jendela pun tertutup kabut. bayangan kota
menjelma pernik pernik bencana.

"selain gelap, aku tak bisa lagi melihat apa apa"
katamu. jam ditembok itu terasa mati. jarum jarumnya
membeku. mengabadikan kisahmu diluar batas
segala rencana

lalu kudengar juga derit gerbong dari
kereta sejarahmu yang masih mengambang;
tentang kampung kampung pesisir dan sepasang
kekasih yang bermain pasir. tapi siapa yang
pernah pasti dengan cahaya?

malam itu aku melihatmu berkemas seperti
kapal bergegas menyiasati badai. kau tutup pintu
yang menyimpan catatan. dan gambar gambar kota
didinding dinding kamar itu meninggalkan pigura
melambaikan tangan pada jalan dan jembatan
antara kenangan dan rindu yang menunggu

tapi dimanakah mata angin ketika kabut menggelayut?

dimatamu laut meluap. badai dan gelombang
menghempaskan karang dan gunung gunung
mendamparkan puing puing kecemasan

diatas piringku..!!


Ompit @ 5:01 PM

EUPHONI UNTUK LUKA
: lizwa sephia


akulah sepi yang ditahbiskan waktu menyusuri
anak anak sungai luka didadamu dengan sepotong
matahari yang menggamit keluhmu melewati lembah
dan tebing tebing kenangan yang pekat menjelmakan
hari hari sebagai pelangi. meski kabut mengisyaratkan
hujan lembab dikisi kisi jendela hatimu.

tapi doa dan tegursapa akan senantiasa mengepak
seperti gelagat elang yang tak pernah berhenti
oleh pekat buram cakrawala. lalu ketika kau
percikkan kegelapan tanpa lidah yang menggambar
mata angin diantara pesta gelombang airmata,

akulah kunang kunang yang berputar rendah menemani
gagap lakumu menyentakkan warna badai yang tak juga
kunjung selesai. dan dalam sepi resahmu

akulah tanah yang memelihara langkah dan jemarimu
dari kutuk masa lalu yang merajam benih bunga
dan ranting akasia sebagai taman tempatmu merebahkan
debu dan segala asap yang menggayut antara
hitam mayang rambut dan lengkung kelam
pelipis tipismu. maka inilah tanganku

sesaat, ketika luka tak mungkin lagi
diajak bicara..!

22 mei 03, lebul

Ompit @ 4:59 PM

IMPRESI SEPOTONG BENDERA

jarak ini penuh cerita tiba-tiba. memaksaku bertanya lagi
tentang waktu dan perjalanan. ada catatan yang terkepung
kabut. terkilir dilipatan batu batu. mukamu menjelma laut
dengan tempias garam yang membelah hutan didalam kepala

sepotong bendera pernah berkibar. tapi bukankah setiap
musim memiliki gerhana, katamu. lalu ladang ladang
kugali lagi dengan sejumput kecemasan terhadap
waktu. matamu pun pucat dengan gerimis yang
mengalir sebagai doa diambang fajar

tapi siapa menghidangkan racun?

dikota ini kita kembali menghapus luka. hujan diluar
jendela mengantar rindu saling berpeluk. lalu senja
kau rebahkan dibibirku. membiarkan bulan abadi

membiarkan retak menemu penuhnya..


Ompit @ 4:55 PM